Surat R.A. Kartini, dalam Novel Menebus Impian

Sebenarnya saya jarang sekali baca yang namanya novel. Dan ketika saya memutuskan untuk membaca novel, saya akan menjadi seorang yang “Pemilih” Klo menurut saya lebih enak baca buku kumpulan cerpen daripada novel. Karena tokohnya jauh lebih banyak jadi konfliknya jg jauh lebih beragam.

Hampir 3 minggu namatin novel ini, dan saatnya untuk mereview novel nerjudul “Menebus Impian” ini. Menceritakan seorang ibu dan anak perempuan tunggalnya, Nur Kemalajati (Acha Septriasa) yang mencoba sadar bahwa hidup adalah perjuangan. Berpindah dari desa ke kota (Jakarta) demi sebuah impian mulia. Nur yang seorang mahasiswi akuntansi harus menghadapi cobaan demi cobaan, bahkan kadang kehormatan dan harga diri dipertaruhkan. Namun rasa cinta yang luar biasa terhadap ibunya membuatnya kuat, meski jatuh bangun ia coba bangkit melewati kesulitan demi kesulitan. Terpaan kehidupan membuatnya tumbuh menjadi sosok wanita mandiri yang tak pernah berharap atas belas kasih oranglain.

Novel yang  diadaptasi dari film dengan judul yang sama tersebut sangat sarat akan nilai-nilai moral. Perjuangan, keikhlasan, ketegaran, dan kesadaran untuk berdiri di atas kaki sendiri. Sisi lain dari sebuah glamoritas kehidupan yang amat jarang diangkat. Ada kalimat pengantar mas Hanung Bramantyo yang mencoba menyadarkan setiap orang bahwa “Impian itu sepenggal kisah omong kosong jika tidak diwujudkan dengan kerja. Tapi kerja tanpa didasari impian, lebih buruk dari cerita omong kosong…” Dan novel sekaligus  film ini menjadi film pertama yang mengangkat tema MLM (Multi Level Marketing).

Ada kalimat yang saya suka banget di novel ini. Kutuliskan untukmu kawan, semoga bisa pula menggugah hatimu. “Aku harus mampu menyeberangi badai, melintasi ombak, dan berlayar menuju cakrawala. Bukankah gugusan bintang-bintang telah menungguku disana.

Gara-gara baca novel ini saya jadi pengin banget punya bukunya R.A Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang. Tapi harus cari di mana y, hari gini cari buku yang ejaannya masih tempoe doeloe.

Diamlah djangan mengeluh, djangan mengaduh, djangan meratap. Mendoa, itulah jang kukendaki, mendoa belaka tiada putus-putusnya, moga-moga kami tetap seperti dahulu; periang dan pertjaja apa djuapun gerakan akan menimpa diri kami di kemudian hari! Djanganlah berputus asa, dan djanganlah menyesali untung, djanganlah hilang kepertjajaan hidup. Kesengsaraan itu membawa nikmat. Tidak ada jang terjdaji berlawanan dengan rasa kasih. Jang hari ini serasa kutuk, besoknja ternjata rahmat. Tjobaan itu adalah pendidikan Tuhan! (Surat Kartini untuk Njonja Abendanon :4 Juli 1903)

Ingin benar hati saja berkenalan dengan seorang gadis modern, jang berani, jang sanggup tegak sendiri dengan hati djantung sadja. Anak gadis jang melalui djalan hidupnja dengan langkah jang tangkas, dengan riang suka, tetap gembira dan asjik, jang berdaja upaja bukan hanja untuk keselamatan bahagia dirinja sendiri sadja, melainkan pun djuga untuk masyarakat jang luas besar itu, jang ichtiarnja pun akan membawakan bahagia kepada sesamanja manusia. (Surat Kartini untuk Nona Zeehandelaar : 25 Mei 1899)

Bermenung aku merenung keluar, menatap langit biru, disanalah seolah-olah aku mengharap mendapat djawab akan pertanjaan jang membadai di dalam rohaniku. Dengan tiada setahuku mataku menurutkan awan melantjar di angkasa hilang lenjap kebelakang daun njiur hidjau melambai-lambai. Tiba-tiba mataku tertambat pada daun-daun ketjil bersinar bergetar-getar, berkilau-kilau keemasan karena sinar tjahaja  matahari -dan tiba-tiba berkilat di dalam sanubariku:pernahkan orang bertanja, mengapa matahari itu bersinar? Siapa,apa jang dikirimnja tjahaja? Aduhai matahariku sajang, matahari emasku, aku akan hidup sepatutnja hingga aku patut engkau sinari, engkau tjahajai, engkau pelihara dan panasi dengan sinar muliamu jang menghidupkan, jang memperbagus dan mengindahkan…(Surat Kartini untuk Njonja Abendanon :31 Djanuari 1901)

One thought on “Surat R.A. Kartini, dalam Novel Menebus Impian

  1. wahh..,keren ya .,., surat-suratnya Raden Ajeng Kartini..
    saja mendjadi merasa terinspirasi.. menemboes impian bersama Kartini., namun kita semua memang harus sar sepenuh rohani jiwa raga bahwa patutlah kita bersyukur djua pada jang maha kuasa.. hehe ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s